![]() |
Manusia bertubuh cebol bulat menerjang Linghu Chong. |
Begitu tiba di samping kapal, orang cebol bulat tersebut bertanya sambil berkacak pinggang dengan angkuh, “Bangsat keparat Zu Qianqiu itu bersembunyi di mana?”
“Bangsat keparat itu sudah lari,” jawab Dewa Akar Persik dengan tertawa. “Dia berkaki panjang dan bisa berlari dengan kencang. Jika kau menggelinding pelan-pelan seperti itu mana mungkin bisa mengejarnya?”
Si cebol bulat hanya mendengus, matanya yang kecil melotot, sambil mulutnya berteriak pula, “Pilku! Pilku!” Usai berkata demikian ia langsung melesat naik ke atas kapal.
Setelah masuk ke dalam kabin, si bulat mengendus-endus dan langsung menyambar sebuah cawan di atas meja. Setelah mencium bau cawan kosong itu, seketika wajahnya berubah hebat. Sebelumnya ia sudah berwajah jelek, dan kini berubah menjadi sangat buruk, bahkan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dari raut mukanya jelas menujukkan kalau hatinya sangat berduka. Ia kemudian memeriksa tujuh cawan kosong lainnya dan mengendus baunya satu per satu.
“Pilku!” kata si bulat sampai delapan kali. Setelah itu ia terlihat semakin sedih dan tidak seorang pun yang tahan melihat perubahan wajahnya. Orang itu kemudian jatuh terduduk di lantai kabin dan menangis keras-keras.
Melihat itu, kelima Dewa Lembah Persik semakin heran dan tertarik. Beramai-ramai mereka mengelilingi si bulat dan bertanya, “Hei, mengapa menangis?
“Apakah kau dipermainkan si bangsat keparat Zu Qianqiu?”
“Jangan bersedih, nanti kalau kami menemukan bangsat keparat itu pasti akan kami robek tubuhnya menjadi empat!”
Si bulat berseru, “Pilku sudah lenyap. Dia telah mencampur pilku dengan arak dan meminum semuanya. Meskipun dia dibunuh juga tidak ada gunanya lagi.”
Terkejut hati Linghu Chong mendengarnya. Segera ia bertanya, “Pil apa yang kau maksudkan itu?”
Si bulat menjawab sambil berlinang air mata, “Selama dua belas tahun aku bersusah payah mencari dan mengumpulkan bahan obat berharga seperti ginseng seribu tahun, jamur fuling, jamur lingzi, tanduk rusa, empedu beruang, umbi shouwu, notoginseng, dan sebagainya. Setelah bahan-bahan itu melewati sembilan kali penyulingan dan sembilan kali pengeringan, aku akhirnya berhasil membuat delapan butir Pil Penyambung Nyawa yang mujarab bisa membangkitkan orang mati. Namun, siapa sangka si keparat Zu Qianqiu mencuri kedelapan pilku yang berharga itu kemudian mencampurnya dengan arak untuk diminum semuanya?”
Linghu Chong semakin terkejut. Ia bertanya, “Apakah kedelapan pil itu memiliki rasa yang sama?”
“Jelas tidak,” sahut si bulat. “Ada yang berbau bacin, ada yang rasanya sangat pahit, ada yang rasanya pedas dan panas seperti dibakar, ada yang tajam seperti pisau mengiris. Asalkan sudah minum kedelapan butir Pil Penyambung Nyawa tersebut, biarpun luka dalam atau luka luar yang bagaimana parahnya juga pasti akan tertolong.”
“Wah, celaka!” seru Linghu Chong sambil menepuk paha. “Zu Qianqiu memang telah mencuri Pil Penyambung Nyawa itu, tapi dia tidak memakannya sendiri, melainkan….”
“Melainkan apa?” desak orang cebol bulat itu.
“Dia mencampur kedepalan pil itu ke dalam arak dan menipu aku supaya meminumnya,” jawab Linghu Chong. “Sungguh aku tidak tahu kalau di dalam arak terdapat obat berharga seperti itu. Justru aku mengira dia hendak meracuni aku.”
“Racun? Racun nenekmu!” damprat si bulat dengan gusar. “Jadi kau yang telah meminum Pil Penyambung Nyawa buatanku itu?” Sampai di sini matanya tampak memandang dengan tajam.
Linghu Chong menjawab, “Zu Qianqiu mengisi delapan cawan arak dan membujuk aku supaya meminum habis semuanya. Memang benar ada yang rasanya panas, ada yang rasanya pahit, ada yang berbau bacin, dan macam-macam lagi. Tapi aku sendiri tidak melihat ada pil di dalamnya.”
Orang cebol bulat itu melotot ke arah Linghu Chong, kemudian tubuhnya melesat ke atas dan menubruk ke arah pemuda itu.
Sejak tadi kelima Dewa Lembah Persik sudah bersiap-siap. Maka begitu tubuh si bulat melompat ke atas, empat orang dari mereka lantas secepat kilat memegang kedua tangan dan kedua kaki orang itu.
“Jangan bunuh dia!” demikian Linghu Chong buru-buru berteriak.
Sungguh aneh, begitu keempat Dewa Lembah Persik menangkap sasaran, langsung saja kedua kaki dan tangan orang cebol bulat itu masuk ke dalam tubuh. Kini si bulat tak ubahnya seperti bola daging berukuran besar. Keempat Dewa Lembah Persik berteriak kaget, kemudian menarik dengan lebih keras. Kedua tangan dan kaki orang itu terlihat mulur ke arah yang berlawanan. Semakin kuat tarikan, semakin mulur pula akibatnya, bagaikan seekor kura-kura mengeluarkan keempat kakinya dari dalam cangkang.
“Jangan bunuh dia!” kembali Linghu Chong berseru.
Keempat Dewa Lembah Persik sedikit mengendurkan tarikan mereka. Lengan dan kaki orang cebol itu kembali masuk ke dalam tubuh, dan kini ia bagiakan segumpal bola daging kembali.
Dewa Buah Persik yang masih terbaring di atas tandu ikut berseru, “Wah, sungguh menarik! Ilmu apakah yang kaupakai itu?”
Waktu keempat Dewa Lembah Persik menarik lagi, kembali tangan dan kaki si bulat terulur keluar sampai lebih dari satu meter panjangnya. Melihat kejadian yang lucu itu, Yue Lingshan dan murid perempuan Huashan lainnya serentak tertawa geli.
“Hei, bagaimana kalau kami tarik tangan dan kakimu supaya lebih panjang, sehingga kau akan terlihat lebih tampan?” seru Dewa Akar Persik bergurau.
“Aih, jangan!” teriak orang itu.
Keempat Dewa Lembah Persik tertegun dan bertanya, “Mengapa?”
Di luar dugaan, begitu merasakan cengkeraman tersebut melemah, si bulat langsung meronta sekerasnya dan melepaskan diri dari keempat orang itu. “Blang!” tahu-tahu dasar kapal diterobos olehnya sehingga berlubang besar. Gerakannya bagaikan belut melarikan diri melalui sungai.
Di tengah suara jeritan para penumpang, terlihat air Sungai Kuning terus naik melalui lubang di dasar kapal dan menyembur ke atas.
Lekas-lekas Yue Buqun memberi perintah, “Masing-masing orang membawa barangnya sendiri-sendiri dan lekas melompat ke daratan!”
Lubang yang jebol di dasar kapal itu sekitar empat kali satu meter lebih. Air sungai pun mengalir sangat cepat. Hanya sekejap saja air di dalam kabin itu sudah setinggi lutut. Untungnya saat itu kapal masih tertambat di tepi sungai sehingga mereka bisa melompat ke daratan dengan selamat. Sementara itu, si jurumudi tampak gelisah dan bingung melihat kapalnya mulai tenggelam. Linghu Chong pun menghiburnya, “Kau tidak perlu khawatir, berapa harga kapalmu akan kuganti dua kali lipat.”
Diam-diam Linghu Chong juga sangat heran. “Selama ini aku tidak mengenal Zu Qianqiu, tapi mengapa orang itu sengaja mencuri obat milik orang cebol bulat tadi untuk diminumkan kepadaku?” Ketika sedikit saja ia mengerahkan tenaga dalam, seketika pada titik Dantian di bawah perut terasa panas membara, namun kedelapan hawa murni yang saling serang di tubuhnya masih terasa bergejolak pula.
Sementara itu Lao Denuo telah menyewa sebuah kapal baru dan memimpin para murid Huashan lainnya untuk memindahkan semua perbekalan dari kapal lama. Linghu Chong mengambil beberapa tahil perak yang entah pemberian dari siapa untuk dibayarkan kepada si jurumudi kapal lama yang telah rusak tadi.
Sebenarnya Yue Buqun sudah merasa tidak nyaman atas segala peristiwa aneh yang baru saja terjadi. Bisa dikatakan semua orang yang baru saja datang satu per satu tidak diketahui maksud dan tujuannya, serta mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Maka, keputusan yang paling baik adalah segera pergi melanjutkan perjalanan secepatnya. Namun, saat itu hari sudah mulai gelap, sehingga sangat tidak aman untuk melanjutkan perjalanan karena sungai di daerah itu berliku-liku. Terpaksa ia memutuskan untuk beristirahat saja di dalam kapal.
Enam Dewa Lembah Persik juga merasa kesal karena berturut-turut mereka dua kali gagal menangkap Zu Qianqiu dan si cebol bola daging. Lolosnya dua orang itu merupakan kejadian langka di dalam hidup mereka. Maka, keenam orang aneh itu pun berusaha membual untuk menutupi rasa malu. Namun pada akhirnya mereka tetap saja tidak menemukan alasan yang tepat. Maka untuk menghibur diri, keenam orang aneh itu pun melanjutkan minum arak, dan sesudah mabuk mereka langsung tertidur pulas.
Yue Buqun berbaring di dalam kabin. Telinganya mendengar suara arus sungai saat bermacam-macam pikiran terlintas dalam benaknya. Beberapa waktu kemudian terdengar suara orang berjalan dari jauh dan semakin mendekat. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki dari arah tepi sungai yang mendekat ke arah kapal. Segera ia bangkit dan mengintip dari balik jendela kabin. Di bawah cahaya rembulan ia dapat melihat secara samar-samar dua sosok bayangan berlari dari kejauhan. Tiba-tiba seorang dari mereka mengangkat tangan memberi isyarat. Ia dan temannya lantas berhenti kira-kira beberapa meter dari perahu.
Kedua orang itu pun berbisik-bisik satu sama lain. Melihat itu, Yue Buqun menarik nafas dalam-dalam untuk mengerahkan ilmu Kabut Lembayung Senja. Dengan ilmu tersebut, penglihatan dan pendengarannya tidak hanya bertambah peka, namun juga memiliki jangkauan yang lebih jauh.
Maka terdengarlah seseorang di antara kedua yang datang itu berkata dengan suara lirih, “Pasti kapal ini. Tadi ketika orang tua dari Huashan menyewa kapal, aku langsung membuat tanda pada atap kabin kapal itu. Aku yakin tidak salah.”
“Baiklah, mari kita segera pulang dan melapor kepada Paman Guru Zhu!” kata yang satu lagi. “Kakak, sejak kapan Partai Seratus Racun kita bermusuhan dengan Perguruan Huashan? Mengapa Paman Guru Zhu mengerahkan begitu banyak tenaga demi menghadang mereka secara besar-besaran?”
Begitu mendengar nama “Partai Seratus Racun”, seketika jantung Yue Buqun berdebar kencang dan keringat dingin pun mengalir di punggungnya. Akibatnya, kekuatan ilmu Kabut Lembayung Senja sempat menurun sehingga suara percakapan kedua orang yang sangat lirih itu tidak terdengar. Ketika ia mengerahkan ilmunya kembali, terdengar suara orang pertama berkata, “…bukan menghadang, tetapi Paman Guru Zhu telah berhutang budi pada seseorang, dan orang itu meminta Paman Guru Zhu untuk menanyakan tentang seseorang…. Sama sekali bukan….”
Suara orang itu sangat pelan sehingga Yue Buqun tidak mampu mendengarnya secara utuh, melainkan terputus-putus. Ketika Yue Buqun berusaha meningkatkan kekuatan ilmu Kabut Lembayung Senja, terdengar langkah kaki kedua orang itu yang semakin menjauh. Akhirnya, bayangan mereka pun lenyap ditelan kegelapan malam.
“Bagaimana bisa Perguruan Huashan kami memiliki permusuhan dengan Partai Seratus Racun?” tanya Yue Buqun dalam hati. “Si Paman Guru Zhu yang mereka bicarakan tadi kemungkinan besar adalah Zhu Caoxian yang selama ini menjadi ketua partai tersebut. Ia dijuluki sebagai ‘Si Ahli Racun Setengah Mati’. Julukan itu merupakan keahliannya yang bisa meracun orang lain sampai setengah mati. Memang, meracuni orang lain sampai mati adalah perkara mudah dan setiap orang bisa melakukannya. Tapi bagaimana dengan meracuni orang sampai setengah mati? Jika dia sudah turun tangan, tentu si korban akan menderita seperti diiris-iris ribuan pisau atau digigit puluhan ribu serangga. Tentu yang ini lebih menderita daripada mati. Namun demikian, si korban sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melakukan bunuh diri meskipun ia menginginkannya, sehingga satu-satunya jalan adalah menyerah dan mengikuti segala perintah Zhu Caoxian. Boleh dikata dua perkumpulan ahli racun terbesar di dunia persilatan adalah Sekte Lima Dewi dan Partai Seratus Racun. Meskipun Partai Seratus Racun masih di bawah Sekte Lima Dewi, namun tetap tidak bisa dipandang remeh. Tapi mengapa Ketua Zhu ingin menghadang perjalanan kami? Lantas, siapakah orang yang telah menyuruhnya?”
Setelah memeras otak Yue Buqun akhirnya sampai pada dugaan, bahwa kemungkinan besar pihak yang menyuruh Partai Seratus Racun adalah Feng Buping dengan Kelompok Pedangnya, atau mungkin lima belas penjahat bercadar yang tempo hari dibutakan mata mereka oleh Linghu Chong.
Tiba-tiba dari arah tepi sungai terdengar suara seorang perempuan berkata dengan suara lirih, “Apakah keluargamu benar-benar memiliki kitab Pedang Penakluk Iblis?”
Yue Buqun mengenali suara perempuan itu yang tidak lain adalah Yue Lingshan. Tanpa perlu menunggu dengan siapa putrinya bicara, ia langsung dapat menyimpulkan tentu ia adalah Lin Pingzhi. Tiba-tiba Yue Buqun terperanjat karena menyadari kalau hubungan kedua muda-mudi itu semakin hari semakin dekat. Pada siang hari mereka tidak berani menunjukkan perasaan masing-masing karena takut menjadi bahan olok-olok murid-murid Huashan lainnya. Maka, keduanya pun memilih bertemu secara sembunyi-sembunyi di tepi sungai setelah lewat tengah malam. Andai saja Yue Buqun tadi tidak mengerahkan ilmu Kabut Lembayung Senja untuk menguping pembicaraan musuh, tentu hal ini akan luput dari perhatiannya. Untuk mengerahkan ilmu Kabut Lembayung Senja diperlukan tenaga yang sangat besar. Itulah sebabnya ia tidak sembarangan mengerahkan ilmu hebat tersebut, kecuali benar-benar dibutuhkan. Sama sekali ia tidak menyangka kalau selain ilmu itu bisa digunakan untuk menyelidiki pembicaraan musuh, ternyata juga berhasil menangkap pembicaraan anak perempuannya.
Terdengar suara Lin Pingzhi berkata, “Keluargaku memang memiliki ilmu Pedang Penakluk Iblis dan aku sendiri sudah sering memperlihatkannya padamu. Tapi, mengenai keberadaan kitabnya aku masih belum yakin.”
“Jika begitu mengapa kakek dan kedua pamanmu mencurigai Kakak Pertama telah menggelapkan kitab warisan keluargamu itu?” tanya Yue Lingshan.
“Mereka yang menaruh curiga. Aku sendiri tidak mencurigai Kakak Pertama,” kata Lin Pingzhi.
“Oh, ternyata kau ini baik hati juga,” sahut Yue Lingshan. “Kau membiarkan orang lain curiga, sedangkan kau tidak menaruh curiga.”
Lin Pingzhi menghela napas dan berkata, “Jika keluargaku benar-benar memiliki kitab pusaka yang hebat itu, tentu Biro Ekspedisi Fuwei kami tidak mungkin hancur dan keluargaku tidak sampai berantakan oleh perbuatan Perguruan Qingcheng.”
“Ucapanmu memang masuk akal,” ujar Yue Lingshan. “Jika demikian, mengapa kau tidak membela Kakak Pertama sewaktu ia didesak oleh kakek dan paman-pamanmu?”
“Aku sendiri tidak mendengar langsung bunyi wasiat yang ditinggalkan Ayah dan Ibu. Maka itu, aku tidak punya alasan untuk membela Kakak Pertama,” jawab Lin Pingzhi.
“Jadi, di dalam hatimu sedikit banyak ada rasa curiga,” desak Yue Lingshan.
“Ah, jangan sekali-kali berkata demikian! Kalau sampai didengar Kakak Pertama bukankah akan merusak hubungan baik sesama saudara seperguruan?” ujar Lin Pingzhi.
“Hm, ternyata kau ini pandai berpura-pura,” ejek Yue Lingshan. “Kalau curiga ya bilang curiga saja, kalau tidak ya bilang tidak. Bila aku menjadi dirimu tentu sudah lama aku menanyai Kakak Pertama terang-terangan.” Gadis itu diam sejenak, kemudian melanjutkan, “Watakmu ternyata sangat mirip dengan Ayah. Kalian sama-sama menaruh curiga bahwa Kakak Pertama telah menggelapkan kitab pusaka itu.”
“Guru juga curiga?” Lin Pingzhi menukas.
Yue Lingshan tertawa, “Hehe, jika kau sendiri tidak curiga mengapa memakai istilah ‘juga’? Aku bilang sifatmu mirip dengan Ayah, ada masalah hanya disimpan dalam hati, sedangkan mulut sama sekali tidak menyinggungnya secara langsung.”
Pada saat itulah tiba-tiba datang sebuah perahu mendekati kapal besar yang ditumpangi rombongan Huashan. Dari perahu tersebut terdengar suara seseorang membentak, “Kalian binatang kecil tak tahu malu! Berani sekali sembarangan menuduh orang! Linghu Chong seorang kesatria gagah sejati, untuk apa ia menginginkan kitab itu? Kalian hanya berani membicarakan sampah di belakang punggung orang. Huh, si tua ini tidak terima!”
Suara bentakan yang sangat keras itu membuat terkejut para penumpang kapal Huashan sehingga mereka terbangun dari tidur masing-masing. Bahkan, burung-burung yang bertengger di pepohonan dekat tepi sungai pun terbangun dan berhamburan ke udara. Sekejap kemudian, dari atas perahu tadi tampak seorang bertubuh tinggi besar melompat ke arah Lin Pingzhi dan Yue Lingshan dengan gerakan sangat cepat. Di bawah cahaya rembulan pemandangan tersebut bagaikan seekor burung elang sedang menyambar dua anak ayam.
Lin Pingzhi dan Yue Lingshan sama-sama tidak membawa senjata. Terpaksa mereka memasang kuda-kuda, bersiap untuk melawan dengan tangan kosong. Sementara itu Yue Buqun yang mengintip dari balik jendela dapat mengetahui kehebatan tenaga dalam raksasa itu dari teriakannya. Dari gerakan si raksasa yang melesat di udara pun menunjukkan kehebatan ilmu silatnya.
Melihat keselamatan putrinya dalam bahaya, Yue Buqun pun berteriak dengan nada cemas, “Tunggu! Jangan sakiti mereka!” Ia kemudian menjebol jendela dan melesat ke arah tepi sungai. Namun baru saja tubuhnya melayang di udara, dilihatnya tangan pria raksasa itu sudah berhasil mencengkeram tubuh Lin Pingzhi dan Yue Lingshan masing-masing dengan satu tangan dan membawa kedua muda-mudi itu lari ke depan sana.
Yue Buqun terkejut luar biasa. Begitu kaki menginjak tanah segera ia mengerahkan segenap tenaga untuk mengejar. Pedang yang sudah siap di tangan lantas ditusukkan ke arah punggung raksasa itu dengan jurus Pelangi Putih Menembus Sinar Mentari.
Karena si penculik bertubuh tinggi besar, langkahnya pun lebar pula. Cukup maju satu langkah ke depan saja ia sudah bisa menghindari tusukan Yue Buqun. Begitu Yue Buqun melompat maju dan kembali menusuk dengan jurus Pedang Zhongping, lagi-lagi raksasa itu melangkah lebar ke depan sehingga serangan tersebut kembali luput.
Yue Buqun kembali melancarkan serangan untuk menusuk punggung si raksasa, kali ini dengan jurus Angin Semilir Membuai Rasa. Sebagai seorang yang menjunjung tata krama, ia lebih dulu berteriak, “Awas seranganku!”
Pada saat ujung pedang hanya berjarak tiga puluh senti dari punggung si raksasa, tiba-tiba ada hembusan angin menerpa tubuh Yue Buqun dari arah samping, disusul kemudian dengan munculnya seseorang yang menusukkan dua jarinya ke arah matanya, membuat ketua Perguruan Huashan itu melompat mundur. Ternyata ada orang lain yang bersembunyi dan mendadak muncul membantu si raksasa.
Saat itu pengejaran Yue Buqun sudah sampai di ujung jalan. Cahaya rembulan tertutup oleh sederet rumah yang berbaris rapi di pinggiran jalan. Dalam kegelapan malam itu reaksi Yue Buqun sungguh luar biasa. Begitu mengetahui munculnya orang lain dari balik persembunyian, ia langsung menghindar sekaligus melancarkan serangan balasan tanpa mengetahui seperti apa wajah si musuh baru.
Si penyerang menundukkan kepala dan kemudian mendesak maju. Jari tangannya mencengkeram untuk menyerang titik Zhongwan di perut Yue Buqun. Tanpa pikir lagi Yue Buqun segera balas menendang. Terpaksa orang itu berputar ke arah lain dan kembali menyerang punggung sang ketua Huashan. Tanpa membalik tubuh, Yue Buqun segera menebas ke belakang dengan cepat dan jitu. Tapi orang itu kembali bisa menghindarkan diri. Menyusul kemudian ia menubruk maju hendak mengincar tenggorokan Yue Buqun.
Diam-diam Yue Buqun merasa gusar karena orang itu berani menghadapi pedangnya dengan tangan kosong. Segera ia mengumpulkan semangat dan menlancarkan serangan berputar ke arah kepala lawan. Buru-buru si lawan menyentil batang pedang dengan jarinya sehingga posisinya berubah agak miring. Keadaan ini justru dimanfaatkan Yue Buqun untuk melanjutkan serangan dengan gerakan menebas. Kali ini serangan tersebut berhasil melemparkan topi lawan yang ternyata menutupi kepala yang botak. Jelas-jelas si penyerang ini seorang biksu. Darah tampak mengalir dari dahinya yang tergores pedang Yue Buqun.
Biksu tersebut kemudian menghentakkan kakinya lalu melesat pergi ditelan kegelapan malam. Karena ia melarikan diri ke arah yang berbeda dengan si raksasa yang menculik Yue Lingshan dan Lin Pingzhi, maka Yue Buqun memutuskan untuk tidak mengejarnya.
Pada saat itulah Ning Zhongze datang dengan pedang terhunus. Ia bertanya, “Di mana Shan’er?”
“Ke sana! Mari kita kejar!” jawab Yue Buqun sambil menunjuk ke depan dengan ujung pedangnya.
Suami-istri itu lantas mengejar ke arah larinya si raksasa tadi. Tak lama kemudian sampailah mereka di suatu persimpangan jalan. Keduanya menjadi bingung entah ke mana si penculik berlari.
“Bagaimana ini? Bagaimana ini?” tanya Ning Zhongze dengan nada gelisah.
“Orang yang menculik Shan’er adalah teman Chong’er. Aku yakin mereka tidak akan berbuat macam-macam,” ujar Yue Buqun berusaha menghibur sang istri. “Marilah kita kembali ke kapal untuk menanyai Chong’er. Tentu dia mengetahui masalah ini.”
Ning Zhongze mengangguk sambil menjawab, “Benar sekali. Aku dengar orang tadi membentak Shan’er dan Pingzhi yang dianggapnya berani sembarangan memfitnah Chong’er. Entah apa yang menjadi alasannya?”
“Tentu ada sangkut pautnya dengan kitab Pedang Penakluk Iblis,” kata Yue Buqun.
Waktu mereka kembali ke kapal, tampak Linghu Chong dan para murid lainnya sedang menunggu di tepi sungai dengan penuh rasa khawatir. Setelah Yue Buqun dan Ning Zhongze masuk ke dalam kabin kapal, mereka berniat memanggil Linghu Chong untuk ditanyai, namun tiba-tiba terdengar suara teriakan, “Ada surat untuk Yue Buqun!” Lao Denuo dan beberapa murid pria segera menghunus pedang dan berlari ke arah suara. Tak lama kemudian mereka sudah kembali ke kapal. Lao Denuo masuk ke dalam kabin untuk melapor, “Guru, kami menemukan selembar kain yang tertindih batu di atas tanah sana. Si pengirim sudah pergi ketika kami datang.”
Yue Buqun menerima kain tersebut dan memeriksanya dengan saksama. Sepertinya kain itu berasal dari sobekan jubah biksu yang ditulisi dengan jari menggunakan tinta darah. Tulisan tersebut berbunyi, “Kami akan mengembalikan putrimu yang bau di Lembah Lima Raja Kejam.”
Yue Buqun menunjukkan kain itu kepada sang istri dan berkata, “Tulisan ini dibuat oleh si biksu tadi.”
Ning Zhongze menganggapi dengan gugup, “Darah… darah siapa yang dipakai menulis itu?”
“Jangan khawatir, pasti darahnya sendiri. Aku tadi berhasil melukai dahinya,” jawab Yue Buqun menenangkan istrinya. Ia kemudian bertanya kepada si jurumudi, “Berapa jauh jarak dari sini ke Lembah Lima Raja Kejam?”
Jurumudi menjawab, “Kalau kita berlayar pagi-pagi sekali, setelah melewati Kota Dongwa dan Jiuhe, maka kita akan sampai di Kota Dongming. Lembah Lima Raja Kejam berada di sebelah timur Dongming, dekat Heze. Lembah itu terletak di perbatasan Provinsi Henan dan Shandong. Jika Tuan ingin pergi ke sana, mungkin kita bisa sampai setelah senja besok.”
Yue Buqun menanggapi dengan berdehem, sambil benaknya berpikir, “Mereka menantang aku untuk bertemu di Lembah Lima Raja Kejam. Mau tidak mau aku harus datang ke sana. Tapi entah berapa jumlah musuh yang menunggu di sana? Selain itu, mereka juga menangkap Shan’er sebagai tawanan. Sepertinya dalam pertandingan ini kekalahanku sudah ditentukan. Tipis harapan untuk menang.”
Sementara hatinya ragu-ragu, tiba-tiba kembali terdengar suara teriakan orang dari arah daratan, “Keparat! Di mana Enam Setan Lembah Persik berada? Aku kakek kalian, Zhong Kui, dewa penangkap setan, datang hendak menangkap kalian!”
Mendengar itu, tentu saja Enam Dewa Lembah Persik gusar bukan kepalang. Mereka pun memaki-maki dengan segala macam kata-kata kotor. Kecuali Dewa Buah Persik yang masih terbaring lemah, kelima orang kakaknya pun bersama-sama melompat ke tepi sungai. Mereka melihat seorang laki-laki yang memakai kopiah panjang dan runcing berdiri di daratan dengan memegang seperangkat panji berwarna putih, seperti yang biasa dibawa pengurus jenazah.
Begitu melihat kelima Dewa Lembah Persik turun dari kapal, ia langsung berbalik sambil berteriak, “Kalian Enam Setan Lembah Persik adalah pengecut seperti tikus! Jika berani, ayo kejar aku!” Usai berkata demikian orang berkopiah panjang itu pun melesat pergi.
Dewa Akar Persik dan keempat adiknya semakin murka. Mereka pun bergegas mengejar si kopiah panjang. Namun tak disangka, orang itu memiliki ilmu ringan tubuh tingkat tinggi. Dalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
Yue Buqun, Ning Zhongze, dan beberapa murid Huashan juga turun dari kapal. Tiba-tiba Yue Buqun menyadari sesuatu dan segera berteriak, “Ini adalah siasat ‘memancing harimau turun gunung’. Semuanya segera kembali ke kapal!”
Pada saat itu sesosok bayangan bulat menggelinding entah dari mana dan langsung menangkap kerah baju Linghu Chong. Ia tidak lain adalah manusia cebol bulat yang tadi sore muncul.
“Ikut pergi denganku!” katanya sambil menarik tubuh Linghu Chong.
Linghu Chong tidak memiliki kekuatan untuk meronta. Namun tiba-tiba dari ujung jalan muncul sesosok bayangan yang menerjang keluar dan langsung menendang si cebol bulat. Ternyata si penyerang ini adalah Dewa Ranting Persik. Rupanya ia telah memisahkan diri dari saudara-saudaranya yang berlari mengejar si kopiah panjang dan memilih kembali ke kapal. Saat pengejaran tadi, diam-diam ia teringat kalau Dewa Buah Persik masih di atas kapal dan bisa jadi kakek Zhong Kui keparat berkopiah panjang tadi berlari memutar dan menangkap si adik bungsu tersebut. Begitu kembali, ia melihat si cebol bulat menyeret tubuh Linghu Chong, sehingga ia pun langsung melancarkan serangan untuk menolong.
Si bulat segera melepaskan Linghu Chong kemudian dengan sekali lompat ia masuk ke dalam kabin kapal mendekati Dewa Buah Persik yang masih terbaring lemah. Ia lantas mengangkat sebelah kakinya hendak menginjak dada Dewa Buah Persik.
Kontan saja Dewa Ranting Persik terkejut dan berteriak, “Jangan lukai adikku!”
“Aku ingin membunuhnya, peduli apa denganmu?” seru si bulat.
Secepat kilat Dewa Ranting Persik menyusul masuk ke dalam kabin. Ia lantas mengangkat tubuh Dewa Buah Persik sekaligus bersama alas tidurnya.
Siasat si bulat berjalan lancar. Ia lantas berbalik dan melompat ke daratan. Dalam sekali cengkeram ia sudah menangkap Linghu Chong kembali. Tubuh pemuda itu kemudian dipanggulnya dan segera dibawanya pergi.
Dewa Ranting Persik teringat pada amanat Ping Yizhi supaya ia dan saudara-saudaranya selalu menjaga Linghu Chong baik-baik. Kini Linghu Chong telah diculik orang. Bagaimana jika hal ini sampai terdengar oleh Tabib Ping? Bukan tidak mungkin kalau Tabib Ping akan memerintahkan supaya Dewa Buah Persik dibunuh sebagai hukuman. Mau tidak mau, Dewa Ranting Persik harus mengejar si bulat dan merebut Linghu Chong. Akan tetapi, ia juga tidak tega meninggalkan Dewa Buah Persik sendirian. Bagaimana jika ada musuh lain yang datang menyerang? Mana mungkin Dewa Buah Persik bisa mempertahankan diri? Tanpa pikir panjang lagi, Dewa Ranting Persik pun memanggul tubuh adik bungsunya itu dan membawanya serta mengejar si bulat.
Melihat itu Yue Buqun segera memberi isyarat kepada sang istri, lalu berkata, “Kau jaga para murid, biar aku yang menyusul ke sana untuk melihat apa yang terjadi.”
Ning Zhongze mengangguk paham. Mereka merasa saat ini banyak musuh tak dikenal yang bisa datang setiap saat. Jika ia ikut sang suami mengejar, bisa-bisa keselamatan para murid dalam bahaya.
Ilmu ringan tubuh si bulat sebenarnya masih di bawah Dewa Ranting Persik. Lebih-lebih dengan memanggul tubuh Linghu Chong di atas bahu membuatnya harus menguras banyak tenaga untuk berlari kencang. Namun Dewa Ranting Persik sendiri juga sedang menggendong Dewa Buah Persik yang belum sembuh dari luka. Dalam hal ini ia sama sekali tidak berani mengambil risiko karena khawatir luka adik bungsunya kembali kambuh apabila terbentur sesuatu. Itu sebabnya Dewa Ranting Persik tidak berlari, melainkan hanya berjalan dengan langkah lebar, sehingga tidak mampu mendekati si bulat yang berlari di depannya.
Yue Buqun juga mengerahkan ilmu ringan tubuh untuk mengejar mereka. Sedikit demi sedikit ia dapat menyusul dan mendengar suara Dewa Ranting Persik berteriak-teriak, “Lepaskan Linghu Chong! Jika tidak, maka aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia dan menghabisimu!”
Meskipun tubuh Dewa Buah Persik lemah tak berdaya, tapi mulutnya tetap saja cerewet. Ia pun menanggapi teriakan Dewa Ranting Persik yang menggendongnya, “Kakak Ketiga, bagaimana kau bisa menghabisinya? Kakak Pertama dan yang lain tidak ada di sini. Biarpun kau dapat menyusul si cebol bulat itu juga tak bisa mengapa-apakan dia. Kau bilang akan mengejarnya sampai ke ujung dunia juga hanya omong kosong belaka, bukan?”
“Walaupun cuma omong kosong, paling tidak bisa membuat dia takut, bukan? Lebih baik omong kosong daripada tidak berbuat apa-apa,” kata Dewa Ranting Persik.
“Kau lihat sendiri, si cebol bulat itu tetap berlari cepat, sama sekali tidak menjadi lambat. Itu berarti, omong kosongmu tidak ada gunanya,” desak Dewa Buah Persik.
“Yah… dia memang tidak memperlambat larinya. Tapi, percayalah padaku. Sebentar lagi dia pasti lebih lambat,” balas Dewa Ranting Persik.
“Tetap saja kata-katamu salah. Seharusnya tadi kau bilang ‘membuat lambat’, bukan ‘membuat takut’,” kata Dewa Buah Persik.
“Pokoknya kata ‘membuat’ tetap benar!” tukas Dewa Ranting Persik. Meskipun mulutnya berdebat dan tangannya memanggul orang, namun kecepatan langkah kakinya sama sekali tidak berkurang.
Begitulah, tiga orang itu berkejar-kejaran dengan cepat menuju ke arah timur laut. Jalanan makin lama makin terjal, rupanya mereka sedang mendaki jalan pegunungan.
Tiba-tiba Yue Buqun menyadari sesuatu. “Jangan-jangan si cebol itu mempersiapkan bala bantuan di lembah pegunungan ini untuk memancing kedatanganku? Jika demikian sungguh sangat berbahaya jika aku sampai masuk ke dalam perangkapnya.”
Karena bimbang, Yue Buqun memperlambat langkah kakinya. Dilihatnya si cebol bulat memanggul tubuh Linghu Chong menuju ke sebuah rumah beratap genting di lereng gunung. Sesudah dekat ia lantas melompat masuk ke halaman rumah itu dengan melintasi pagar tembok.
Dewa Ranting Persik yang menggendong Dewa Buah Persik juga ikut melompati pagar tembok itu. Tapi mendadak terdengar suara ia menjerit. Ternyata ia dan adik bungsunya telah masuk ke dalam perangkap yang terpasang di balik pagar tembok tersebut.
Yue Buqun juga sudah mengejar sampai di tepi pagar tembok itu. Tapi ia lantas berhenti dan memasang telinga. Terdengar Dewa Buah Persik menggerutu, “Sudah kukatakan kepadamu agar berhati-hati. Coba lihat, sekarang kau terperangkap di dalam jaring ini mirip seekor ikan, sungguh sial!”
Dewa Ranting Persik menjawab, “Pertama, bukan seekor tapi dua ekor ikan. Kedua, kapan kau pernah menyuruh aku berhati-hati?”
“Eh, dulu waktu masih kecil, ketika kita pergi mencuri buah mangga di halaman rumah orang, bukankah pernah kusuruh kau berhati-hati? Apa kau sudah lupa?” balas Dewa Buah Persik.
“Itu kejadian tiga puluh tahun yang lalu, mana ada sangkut pautnya dengan yang sekarang ini?” sahut Dewa Ranting Persik.
“Sudah tentu ada sangkut pautnya,” kata Dewa Buah Persik. “Karena dulu kau kurang hati-hati sehingga jatuh dari pohon dan ditangkap orang, lalu dihajar. Untung Kakak Pertama, Kakak Kedua, dan yang lain datang menolong kita dan membunuh habis orang-orang itu sekeluarga. Sekarang kau kurang hati-hati lagi sehingga kembali tertangkap pula.”
“Apa susahnya? Kita tunggu saja Kakak Pertama dan yang lain datang dan membunuh habis orang ini sekeluarga,” kata Dewa Ranting Persik.
Terdengar si bulat mendengus dan berkata, “Hm, kematian kalian dua Setan Lembah Persik sudah di depan mata, tapi masih berani mengoceh akan membunuh orang segala. Lebih baik tutup mulut kalian supaya telingaku tidak panas.”
Lalu terdengar dua kali suara tamparan yang disusul kemudian Dewa Ranting Persik dan Dewa Buah Persik terdiam seketika.
Yue Buqun masih memasang telinga, namun tidak terdengar suara apa-apa lagi. Ia lantas memutar ke belakang rumah. Tampak di luar pekarangan tumbuh sebuah pohon besar. Ia pun memanjat pohon besar itu dan memandang ke dalam. Tampak sebuah pondok kecil berdiri pada jarak belasan meter dari tembok luar.
Melihat nasib Dewa Ranting Persik dan Dewa Buah Persik, Yue Buqun tidak berani masuk ke dalam pondok itu karena yakin terdapat banyak perangkap di sana. Maka ia hanya bersembunyi di atas pohon tersebut sambil mengerahkan ilmu Kabut Lembayung Senja untuk mendengarkan pembicaraan di dalam pondok. Terdengarlah suara si bulat mendudukkan tubuh Linghu Chong di atas kursi, kemudian bertanya, “Sesungguhnya si tua bangka Zu Qianqiu itu ada hubungan apa denganmu?”
Linghu Chong menjawab, “Baru pertama kali ini aku bertemu orang bernama Zu Qianqiu itu.”
“Kau masih berani berdusta, hah?” bentak si bulat gusar, “Apa kau sudah lupa kalau sekarang sudah jatuh ke tanganku? Tunggu saja, sebentar lagi kau pasti akan kubuat menderita sampai mati.”
“Aku tahu kau sangat marah karena pilmu yang katanya mujarab itu telah kumakan tanpa sengaja,” kata Linghu Chong dengan tertawa. “Tapi jujur saja, aku merasa ragu jangan-jangan pilmu itu tidak sehebat dugaanmu. Sudah sekian lama kutelan obatmu namun sedikit pun aku tidak merasakan adanya perubahan.”
“Memangnya kau kira bisa begitu cepat reaksinya?” kata si bulat makin gusar. “Datangnya penyakit biasanya mendadak seperti gunung runtuh, tapi sembuhnya sedikit demi sedikit seperti kepompong ulat sutra. Khasiat obatku itu baru dapat terlihat sesudah sepuluh atau lima belas hari lagi.”
“Kalau begitu, mengapa kau tidak menunggu sampai lima belas hari saja, supaya ketahuan bagaimana khasiatnya?” ejek Linghu Chong.
“Kentut busuk!” bentak si bulat. “Kau sudah memakan Pil Penyambung Nyawa secara licik. Akan kubunuh kau sekarang juga!”
“Kalau kau bunuh aku, justru membuktikan kalau Pil Penyambung Nyawa ternyata tidak bisa memperpanjang nyawaku,” kata Linghu Chong.
“Huh, kau mati di tanganku, tidak ada hubungannya dengan khasiat Pil Penyambung Nyawa,” balas si bulat.
“Baiklah, kalau kau mau membunuhku boleh saja. Aku sudah tidak bertenaga dan tidak mampu melawan,” kata Linghu Chong dengan tertawa.
“Huh, jangan harap kau bisa mati dengan enak! Aku harus menanyaimu lebih dulu,” bentak si bulat. “Bedebah! Zu Qianqiu adalah sahabatku selama puluhan tahun. Sekarang dia tega mengkhianati kawan sendiri, tentu ada sebab-musababnya. Perguruan Huashan kalian tidak ada artinya sama sekali di mata kami, Leluhur Tua Sungai Kuning. Dia mencuri Pil Penyambung Nyawa milikku untuk diberikan kepadamu tentu bukan karena kau ini murid Huashan. Pasti ada alasan lainnya. Aih, sungguh aneh, sungguh aneh!” Sambil bicara sendiri, ia membanting kakinya di lantai dengan sangat marah.
“Oh, aku tahu. Ternyata julukanmu adalah Leluhur Tua Sungai Kuning. Maafkan aku kalau tidak mengenalimu,” kata Linghu Chong.
“Dasar bodoh!” bentak si bulat semakin kesal. “Aku seorang diri, mana bisa disebut Leluhur Tua Sungai Kuning?”
“Mengapa tidak bisa?” tanya Linghu Chong heran.
“Leluhur Tua Sungai Kuning terdiri dari dua orang, yang satu bermarga Lao, yang satu lagi bermarga Zu. Mengapa begini saja tidak paham? Sungguh goblok!” gerutu si bulat. “Namaku Lao Ye, atau Lao Touzi, sedangkan dia bernama Zu Zong atau Zu Qianqiu. Kami berdua bersemayam di sepanjang lembah Sungai Kuning, sehingga kami disebut sebagai Leluhur Tua Sungai Kuning.”
“Aneh, mengapa yang seorang bermarga Lao, artinya tua, dan yang lain bermarga Zu, artinya leluhur?” tanya Linghu Chong.
“Kau ini masih hijau seperti katak dalam tempurung, sehingga tidak tahu kalau di dunia ini ada orang bermarga Lao dan Zu,” kata si bulat. “Namaku Lao Ye, atau Lao Touzi. Kalau aku tidak dipanggil Lao Ye, berarti aku dipanggil Lao Touzi.”
Linghu Chong tertawa menanggapi, “Kalau begitu Zu Qianqiu bermarga Zu dan bernama Zong?”
“Benar!” jawab si bulat Lao Touzi. Setelah diam sejenak ia melanjutkan, “Hei, kau tidak tahu nama Zu Qianqiu, jika begitu mungkin kau memang tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Tapi, aih, jangan-jangan kau ini anaknya Zu Qianqiu?”
Linghu Chong bertambah geli dan menyahut, “Bagaimana mungkin aku ini anaknya? Dia bermarga Zu, sedang aku bermarga Linghu. Mana bisa keduanya dihubung-hubungkan?”
“Sungguh aneh,” gumam Lao Touzi. “Dengan susah payah, dengan segala tipu daya akhirnya aku bisa meracik delapan biji Pil Penyambung Nyawa yang sedianya hendak kugunakan untuk mengobati penyakit putriku tercinta. Kau sendiri bukan anak Zu Qianqiu, tapi mengapa dia mencuri obat itu untukmu?”
“Bangsat keparat itu sudah lari,” jawab Dewa Akar Persik dengan tertawa. “Dia berkaki panjang dan bisa berlari dengan kencang. Jika kau menggelinding pelan-pelan seperti itu mana mungkin bisa mengejarnya?”
Si cebol bulat hanya mendengus, matanya yang kecil melotot, sambil mulutnya berteriak pula, “Pilku! Pilku!” Usai berkata demikian ia langsung melesat naik ke atas kapal.
Setelah masuk ke dalam kabin, si bulat mengendus-endus dan langsung menyambar sebuah cawan di atas meja. Setelah mencium bau cawan kosong itu, seketika wajahnya berubah hebat. Sebelumnya ia sudah berwajah jelek, dan kini berubah menjadi sangat buruk, bahkan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dari raut mukanya jelas menujukkan kalau hatinya sangat berduka. Ia kemudian memeriksa tujuh cawan kosong lainnya dan mengendus baunya satu per satu.
“Pilku!” kata si bulat sampai delapan kali. Setelah itu ia terlihat semakin sedih dan tidak seorang pun yang tahan melihat perubahan wajahnya. Orang itu kemudian jatuh terduduk di lantai kabin dan menangis keras-keras.
Melihat itu, kelima Dewa Lembah Persik semakin heran dan tertarik. Beramai-ramai mereka mengelilingi si bulat dan bertanya, “Hei, mengapa menangis?
“Apakah kau dipermainkan si bangsat keparat Zu Qianqiu?”
“Jangan bersedih, nanti kalau kami menemukan bangsat keparat itu pasti akan kami robek tubuhnya menjadi empat!”
Si bulat berseru, “Pilku sudah lenyap. Dia telah mencampur pilku dengan arak dan meminum semuanya. Meskipun dia dibunuh juga tidak ada gunanya lagi.”
Terkejut hati Linghu Chong mendengarnya. Segera ia bertanya, “Pil apa yang kau maksudkan itu?”
Si bulat menjawab sambil berlinang air mata, “Selama dua belas tahun aku bersusah payah mencari dan mengumpulkan bahan obat berharga seperti ginseng seribu tahun, jamur fuling, jamur lingzi, tanduk rusa, empedu beruang, umbi shouwu, notoginseng, dan sebagainya. Setelah bahan-bahan itu melewati sembilan kali penyulingan dan sembilan kali pengeringan, aku akhirnya berhasil membuat delapan butir Pil Penyambung Nyawa yang mujarab bisa membangkitkan orang mati. Namun, siapa sangka si keparat Zu Qianqiu mencuri kedelapan pilku yang berharga itu kemudian mencampurnya dengan arak untuk diminum semuanya?”
Linghu Chong semakin terkejut. Ia bertanya, “Apakah kedelapan pil itu memiliki rasa yang sama?”
“Jelas tidak,” sahut si bulat. “Ada yang berbau bacin, ada yang rasanya sangat pahit, ada yang rasanya pedas dan panas seperti dibakar, ada yang tajam seperti pisau mengiris. Asalkan sudah minum kedelapan butir Pil Penyambung Nyawa tersebut, biarpun luka dalam atau luka luar yang bagaimana parahnya juga pasti akan tertolong.”
“Wah, celaka!” seru Linghu Chong sambil menepuk paha. “Zu Qianqiu memang telah mencuri Pil Penyambung Nyawa itu, tapi dia tidak memakannya sendiri, melainkan….”
“Melainkan apa?” desak orang cebol bulat itu.
“Dia mencampur kedepalan pil itu ke dalam arak dan menipu aku supaya meminumnya,” jawab Linghu Chong. “Sungguh aku tidak tahu kalau di dalam arak terdapat obat berharga seperti itu. Justru aku mengira dia hendak meracuni aku.”
“Racun? Racun nenekmu!” damprat si bulat dengan gusar. “Jadi kau yang telah meminum Pil Penyambung Nyawa buatanku itu?” Sampai di sini matanya tampak memandang dengan tajam.
Linghu Chong menjawab, “Zu Qianqiu mengisi delapan cawan arak dan membujuk aku supaya meminum habis semuanya. Memang benar ada yang rasanya panas, ada yang rasanya pahit, ada yang berbau bacin, dan macam-macam lagi. Tapi aku sendiri tidak melihat ada pil di dalamnya.”
Orang cebol bulat itu melotot ke arah Linghu Chong, kemudian tubuhnya melesat ke atas dan menubruk ke arah pemuda itu.
Sejak tadi kelima Dewa Lembah Persik sudah bersiap-siap. Maka begitu tubuh si bulat melompat ke atas, empat orang dari mereka lantas secepat kilat memegang kedua tangan dan kedua kaki orang itu.
“Jangan bunuh dia!” demikian Linghu Chong buru-buru berteriak.
Sungguh aneh, begitu keempat Dewa Lembah Persik menangkap sasaran, langsung saja kedua kaki dan tangan orang cebol bulat itu masuk ke dalam tubuh. Kini si bulat tak ubahnya seperti bola daging berukuran besar. Keempat Dewa Lembah Persik berteriak kaget, kemudian menarik dengan lebih keras. Kedua tangan dan kaki orang itu terlihat mulur ke arah yang berlawanan. Semakin kuat tarikan, semakin mulur pula akibatnya, bagaikan seekor kura-kura mengeluarkan keempat kakinya dari dalam cangkang.
“Jangan bunuh dia!” kembali Linghu Chong berseru.
Keempat Dewa Lembah Persik sedikit mengendurkan tarikan mereka. Lengan dan kaki orang cebol itu kembali masuk ke dalam tubuh, dan kini ia bagiakan segumpal bola daging kembali.
Dewa Buah Persik yang masih terbaring di atas tandu ikut berseru, “Wah, sungguh menarik! Ilmu apakah yang kaupakai itu?”
Waktu keempat Dewa Lembah Persik menarik lagi, kembali tangan dan kaki si bulat terulur keluar sampai lebih dari satu meter panjangnya. Melihat kejadian yang lucu itu, Yue Lingshan dan murid perempuan Huashan lainnya serentak tertawa geli.
“Hei, bagaimana kalau kami tarik tangan dan kakimu supaya lebih panjang, sehingga kau akan terlihat lebih tampan?” seru Dewa Akar Persik bergurau.
“Aih, jangan!” teriak orang itu.
Keempat Dewa Lembah Persik tertegun dan bertanya, “Mengapa?”
Di luar dugaan, begitu merasakan cengkeraman tersebut melemah, si bulat langsung meronta sekerasnya dan melepaskan diri dari keempat orang itu. “Blang!” tahu-tahu dasar kapal diterobos olehnya sehingga berlubang besar. Gerakannya bagaikan belut melarikan diri melalui sungai.
Di tengah suara jeritan para penumpang, terlihat air Sungai Kuning terus naik melalui lubang di dasar kapal dan menyembur ke atas.
Lekas-lekas Yue Buqun memberi perintah, “Masing-masing orang membawa barangnya sendiri-sendiri dan lekas melompat ke daratan!”
Lubang yang jebol di dasar kapal itu sekitar empat kali satu meter lebih. Air sungai pun mengalir sangat cepat. Hanya sekejap saja air di dalam kabin itu sudah setinggi lutut. Untungnya saat itu kapal masih tertambat di tepi sungai sehingga mereka bisa melompat ke daratan dengan selamat. Sementara itu, si jurumudi tampak gelisah dan bingung melihat kapalnya mulai tenggelam. Linghu Chong pun menghiburnya, “Kau tidak perlu khawatir, berapa harga kapalmu akan kuganti dua kali lipat.”
Diam-diam Linghu Chong juga sangat heran. “Selama ini aku tidak mengenal Zu Qianqiu, tapi mengapa orang itu sengaja mencuri obat milik orang cebol bulat tadi untuk diminumkan kepadaku?” Ketika sedikit saja ia mengerahkan tenaga dalam, seketika pada titik Dantian di bawah perut terasa panas membara, namun kedelapan hawa murni yang saling serang di tubuhnya masih terasa bergejolak pula.
Sementara itu Lao Denuo telah menyewa sebuah kapal baru dan memimpin para murid Huashan lainnya untuk memindahkan semua perbekalan dari kapal lama. Linghu Chong mengambil beberapa tahil perak yang entah pemberian dari siapa untuk dibayarkan kepada si jurumudi kapal lama yang telah rusak tadi.
Sebenarnya Yue Buqun sudah merasa tidak nyaman atas segala peristiwa aneh yang baru saja terjadi. Bisa dikatakan semua orang yang baru saja datang satu per satu tidak diketahui maksud dan tujuannya, serta mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Maka, keputusan yang paling baik adalah segera pergi melanjutkan perjalanan secepatnya. Namun, saat itu hari sudah mulai gelap, sehingga sangat tidak aman untuk melanjutkan perjalanan karena sungai di daerah itu berliku-liku. Terpaksa ia memutuskan untuk beristirahat saja di dalam kapal.
Enam Dewa Lembah Persik juga merasa kesal karena berturut-turut mereka dua kali gagal menangkap Zu Qianqiu dan si cebol bola daging. Lolosnya dua orang itu merupakan kejadian langka di dalam hidup mereka. Maka, keenam orang aneh itu pun berusaha membual untuk menutupi rasa malu. Namun pada akhirnya mereka tetap saja tidak menemukan alasan yang tepat. Maka untuk menghibur diri, keenam orang aneh itu pun melanjutkan minum arak, dan sesudah mabuk mereka langsung tertidur pulas.
Yue Buqun berbaring di dalam kabin. Telinganya mendengar suara arus sungai saat bermacam-macam pikiran terlintas dalam benaknya. Beberapa waktu kemudian terdengar suara orang berjalan dari jauh dan semakin mendekat. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki dari arah tepi sungai yang mendekat ke arah kapal. Segera ia bangkit dan mengintip dari balik jendela kabin. Di bawah cahaya rembulan ia dapat melihat secara samar-samar dua sosok bayangan berlari dari kejauhan. Tiba-tiba seorang dari mereka mengangkat tangan memberi isyarat. Ia dan temannya lantas berhenti kira-kira beberapa meter dari perahu.
Kedua orang itu pun berbisik-bisik satu sama lain. Melihat itu, Yue Buqun menarik nafas dalam-dalam untuk mengerahkan ilmu Kabut Lembayung Senja. Dengan ilmu tersebut, penglihatan dan pendengarannya tidak hanya bertambah peka, namun juga memiliki jangkauan yang lebih jauh.
Maka terdengarlah seseorang di antara kedua yang datang itu berkata dengan suara lirih, “Pasti kapal ini. Tadi ketika orang tua dari Huashan menyewa kapal, aku langsung membuat tanda pada atap kabin kapal itu. Aku yakin tidak salah.”
“Baiklah, mari kita segera pulang dan melapor kepada Paman Guru Zhu!” kata yang satu lagi. “Kakak, sejak kapan Partai Seratus Racun kita bermusuhan dengan Perguruan Huashan? Mengapa Paman Guru Zhu mengerahkan begitu banyak tenaga demi menghadang mereka secara besar-besaran?”
Begitu mendengar nama “Partai Seratus Racun”, seketika jantung Yue Buqun berdebar kencang dan keringat dingin pun mengalir di punggungnya. Akibatnya, kekuatan ilmu Kabut Lembayung Senja sempat menurun sehingga suara percakapan kedua orang yang sangat lirih itu tidak terdengar. Ketika ia mengerahkan ilmunya kembali, terdengar suara orang pertama berkata, “…bukan menghadang, tetapi Paman Guru Zhu telah berhutang budi pada seseorang, dan orang itu meminta Paman Guru Zhu untuk menanyakan tentang seseorang…. Sama sekali bukan….”
Suara orang itu sangat pelan sehingga Yue Buqun tidak mampu mendengarnya secara utuh, melainkan terputus-putus. Ketika Yue Buqun berusaha meningkatkan kekuatan ilmu Kabut Lembayung Senja, terdengar langkah kaki kedua orang itu yang semakin menjauh. Akhirnya, bayangan mereka pun lenyap ditelan kegelapan malam.
“Bagaimana bisa Perguruan Huashan kami memiliki permusuhan dengan Partai Seratus Racun?” tanya Yue Buqun dalam hati. “Si Paman Guru Zhu yang mereka bicarakan tadi kemungkinan besar adalah Zhu Caoxian yang selama ini menjadi ketua partai tersebut. Ia dijuluki sebagai ‘Si Ahli Racun Setengah Mati’. Julukan itu merupakan keahliannya yang bisa meracun orang lain sampai setengah mati. Memang, meracuni orang lain sampai mati adalah perkara mudah dan setiap orang bisa melakukannya. Tapi bagaimana dengan meracuni orang sampai setengah mati? Jika dia sudah turun tangan, tentu si korban akan menderita seperti diiris-iris ribuan pisau atau digigit puluhan ribu serangga. Tentu yang ini lebih menderita daripada mati. Namun demikian, si korban sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melakukan bunuh diri meskipun ia menginginkannya, sehingga satu-satunya jalan adalah menyerah dan mengikuti segala perintah Zhu Caoxian. Boleh dikata dua perkumpulan ahli racun terbesar di dunia persilatan adalah Sekte Lima Dewi dan Partai Seratus Racun. Meskipun Partai Seratus Racun masih di bawah Sekte Lima Dewi, namun tetap tidak bisa dipandang remeh. Tapi mengapa Ketua Zhu ingin menghadang perjalanan kami? Lantas, siapakah orang yang telah menyuruhnya?”
Setelah memeras otak Yue Buqun akhirnya sampai pada dugaan, bahwa kemungkinan besar pihak yang menyuruh Partai Seratus Racun adalah Feng Buping dengan Kelompok Pedangnya, atau mungkin lima belas penjahat bercadar yang tempo hari dibutakan mata mereka oleh Linghu Chong.
Tiba-tiba dari arah tepi sungai terdengar suara seorang perempuan berkata dengan suara lirih, “Apakah keluargamu benar-benar memiliki kitab Pedang Penakluk Iblis?”
Yue Buqun mengenali suara perempuan itu yang tidak lain adalah Yue Lingshan. Tanpa perlu menunggu dengan siapa putrinya bicara, ia langsung dapat menyimpulkan tentu ia adalah Lin Pingzhi. Tiba-tiba Yue Buqun terperanjat karena menyadari kalau hubungan kedua muda-mudi itu semakin hari semakin dekat. Pada siang hari mereka tidak berani menunjukkan perasaan masing-masing karena takut menjadi bahan olok-olok murid-murid Huashan lainnya. Maka, keduanya pun memilih bertemu secara sembunyi-sembunyi di tepi sungai setelah lewat tengah malam. Andai saja Yue Buqun tadi tidak mengerahkan ilmu Kabut Lembayung Senja untuk menguping pembicaraan musuh, tentu hal ini akan luput dari perhatiannya. Untuk mengerahkan ilmu Kabut Lembayung Senja diperlukan tenaga yang sangat besar. Itulah sebabnya ia tidak sembarangan mengerahkan ilmu hebat tersebut, kecuali benar-benar dibutuhkan. Sama sekali ia tidak menyangka kalau selain ilmu itu bisa digunakan untuk menyelidiki pembicaraan musuh, ternyata juga berhasil menangkap pembicaraan anak perempuannya.
Terdengar suara Lin Pingzhi berkata, “Keluargaku memang memiliki ilmu Pedang Penakluk Iblis dan aku sendiri sudah sering memperlihatkannya padamu. Tapi, mengenai keberadaan kitabnya aku masih belum yakin.”
“Jika begitu mengapa kakek dan kedua pamanmu mencurigai Kakak Pertama telah menggelapkan kitab warisan keluargamu itu?” tanya Yue Lingshan.
“Mereka yang menaruh curiga. Aku sendiri tidak mencurigai Kakak Pertama,” kata Lin Pingzhi.
“Oh, ternyata kau ini baik hati juga,” sahut Yue Lingshan. “Kau membiarkan orang lain curiga, sedangkan kau tidak menaruh curiga.”
Lin Pingzhi menghela napas dan berkata, “Jika keluargaku benar-benar memiliki kitab pusaka yang hebat itu, tentu Biro Ekspedisi Fuwei kami tidak mungkin hancur dan keluargaku tidak sampai berantakan oleh perbuatan Perguruan Qingcheng.”
“Ucapanmu memang masuk akal,” ujar Yue Lingshan. “Jika demikian, mengapa kau tidak membela Kakak Pertama sewaktu ia didesak oleh kakek dan paman-pamanmu?”
“Aku sendiri tidak mendengar langsung bunyi wasiat yang ditinggalkan Ayah dan Ibu. Maka itu, aku tidak punya alasan untuk membela Kakak Pertama,” jawab Lin Pingzhi.
“Jadi, di dalam hatimu sedikit banyak ada rasa curiga,” desak Yue Lingshan.
“Ah, jangan sekali-kali berkata demikian! Kalau sampai didengar Kakak Pertama bukankah akan merusak hubungan baik sesama saudara seperguruan?” ujar Lin Pingzhi.
“Hm, ternyata kau ini pandai berpura-pura,” ejek Yue Lingshan. “Kalau curiga ya bilang curiga saja, kalau tidak ya bilang tidak. Bila aku menjadi dirimu tentu sudah lama aku menanyai Kakak Pertama terang-terangan.” Gadis itu diam sejenak, kemudian melanjutkan, “Watakmu ternyata sangat mirip dengan Ayah. Kalian sama-sama menaruh curiga bahwa Kakak Pertama telah menggelapkan kitab pusaka itu.”
“Guru juga curiga?” Lin Pingzhi menukas.
Yue Lingshan tertawa, “Hehe, jika kau sendiri tidak curiga mengapa memakai istilah ‘juga’? Aku bilang sifatmu mirip dengan Ayah, ada masalah hanya disimpan dalam hati, sedangkan mulut sama sekali tidak menyinggungnya secara langsung.”
Pada saat itulah tiba-tiba datang sebuah perahu mendekati kapal besar yang ditumpangi rombongan Huashan. Dari perahu tersebut terdengar suara seseorang membentak, “Kalian binatang kecil tak tahu malu! Berani sekali sembarangan menuduh orang! Linghu Chong seorang kesatria gagah sejati, untuk apa ia menginginkan kitab itu? Kalian hanya berani membicarakan sampah di belakang punggung orang. Huh, si tua ini tidak terima!”
Suara bentakan yang sangat keras itu membuat terkejut para penumpang kapal Huashan sehingga mereka terbangun dari tidur masing-masing. Bahkan, burung-burung yang bertengger di pepohonan dekat tepi sungai pun terbangun dan berhamburan ke udara. Sekejap kemudian, dari atas perahu tadi tampak seorang bertubuh tinggi besar melompat ke arah Lin Pingzhi dan Yue Lingshan dengan gerakan sangat cepat. Di bawah cahaya rembulan pemandangan tersebut bagaikan seekor burung elang sedang menyambar dua anak ayam.
Lin Pingzhi dan Yue Lingshan sama-sama tidak membawa senjata. Terpaksa mereka memasang kuda-kuda, bersiap untuk melawan dengan tangan kosong. Sementara itu Yue Buqun yang mengintip dari balik jendela dapat mengetahui kehebatan tenaga dalam raksasa itu dari teriakannya. Dari gerakan si raksasa yang melesat di udara pun menunjukkan kehebatan ilmu silatnya.
Melihat keselamatan putrinya dalam bahaya, Yue Buqun pun berteriak dengan nada cemas, “Tunggu! Jangan sakiti mereka!” Ia kemudian menjebol jendela dan melesat ke arah tepi sungai. Namun baru saja tubuhnya melayang di udara, dilihatnya tangan pria raksasa itu sudah berhasil mencengkeram tubuh Lin Pingzhi dan Yue Lingshan masing-masing dengan satu tangan dan membawa kedua muda-mudi itu lari ke depan sana.
Yue Buqun terkejut luar biasa. Begitu kaki menginjak tanah segera ia mengerahkan segenap tenaga untuk mengejar. Pedang yang sudah siap di tangan lantas ditusukkan ke arah punggung raksasa itu dengan jurus Pelangi Putih Menembus Sinar Mentari.
Karena si penculik bertubuh tinggi besar, langkahnya pun lebar pula. Cukup maju satu langkah ke depan saja ia sudah bisa menghindari tusukan Yue Buqun. Begitu Yue Buqun melompat maju dan kembali menusuk dengan jurus Pedang Zhongping, lagi-lagi raksasa itu melangkah lebar ke depan sehingga serangan tersebut kembali luput.
Yue Buqun kembali melancarkan serangan untuk menusuk punggung si raksasa, kali ini dengan jurus Angin Semilir Membuai Rasa. Sebagai seorang yang menjunjung tata krama, ia lebih dulu berteriak, “Awas seranganku!”
Pada saat ujung pedang hanya berjarak tiga puluh senti dari punggung si raksasa, tiba-tiba ada hembusan angin menerpa tubuh Yue Buqun dari arah samping, disusul kemudian dengan munculnya seseorang yang menusukkan dua jarinya ke arah matanya, membuat ketua Perguruan Huashan itu melompat mundur. Ternyata ada orang lain yang bersembunyi dan mendadak muncul membantu si raksasa.
Saat itu pengejaran Yue Buqun sudah sampai di ujung jalan. Cahaya rembulan tertutup oleh sederet rumah yang berbaris rapi di pinggiran jalan. Dalam kegelapan malam itu reaksi Yue Buqun sungguh luar biasa. Begitu mengetahui munculnya orang lain dari balik persembunyian, ia langsung menghindar sekaligus melancarkan serangan balasan tanpa mengetahui seperti apa wajah si musuh baru.
Si penyerang menundukkan kepala dan kemudian mendesak maju. Jari tangannya mencengkeram untuk menyerang titik Zhongwan di perut Yue Buqun. Tanpa pikir lagi Yue Buqun segera balas menendang. Terpaksa orang itu berputar ke arah lain dan kembali menyerang punggung sang ketua Huashan. Tanpa membalik tubuh, Yue Buqun segera menebas ke belakang dengan cepat dan jitu. Tapi orang itu kembali bisa menghindarkan diri. Menyusul kemudian ia menubruk maju hendak mengincar tenggorokan Yue Buqun.
Diam-diam Yue Buqun merasa gusar karena orang itu berani menghadapi pedangnya dengan tangan kosong. Segera ia mengumpulkan semangat dan menlancarkan serangan berputar ke arah kepala lawan. Buru-buru si lawan menyentil batang pedang dengan jarinya sehingga posisinya berubah agak miring. Keadaan ini justru dimanfaatkan Yue Buqun untuk melanjutkan serangan dengan gerakan menebas. Kali ini serangan tersebut berhasil melemparkan topi lawan yang ternyata menutupi kepala yang botak. Jelas-jelas si penyerang ini seorang biksu. Darah tampak mengalir dari dahinya yang tergores pedang Yue Buqun.
Biksu tersebut kemudian menghentakkan kakinya lalu melesat pergi ditelan kegelapan malam. Karena ia melarikan diri ke arah yang berbeda dengan si raksasa yang menculik Yue Lingshan dan Lin Pingzhi, maka Yue Buqun memutuskan untuk tidak mengejarnya.
Pada saat itulah Ning Zhongze datang dengan pedang terhunus. Ia bertanya, “Di mana Shan’er?”
“Ke sana! Mari kita kejar!” jawab Yue Buqun sambil menunjuk ke depan dengan ujung pedangnya.
Suami-istri itu lantas mengejar ke arah larinya si raksasa tadi. Tak lama kemudian sampailah mereka di suatu persimpangan jalan. Keduanya menjadi bingung entah ke mana si penculik berlari.
“Bagaimana ini? Bagaimana ini?” tanya Ning Zhongze dengan nada gelisah.
“Orang yang menculik Shan’er adalah teman Chong’er. Aku yakin mereka tidak akan berbuat macam-macam,” ujar Yue Buqun berusaha menghibur sang istri. “Marilah kita kembali ke kapal untuk menanyai Chong’er. Tentu dia mengetahui masalah ini.”
Ning Zhongze mengangguk sambil menjawab, “Benar sekali. Aku dengar orang tadi membentak Shan’er dan Pingzhi yang dianggapnya berani sembarangan memfitnah Chong’er. Entah apa yang menjadi alasannya?”
“Tentu ada sangkut pautnya dengan kitab Pedang Penakluk Iblis,” kata Yue Buqun.
Waktu mereka kembali ke kapal, tampak Linghu Chong dan para murid lainnya sedang menunggu di tepi sungai dengan penuh rasa khawatir. Setelah Yue Buqun dan Ning Zhongze masuk ke dalam kabin kapal, mereka berniat memanggil Linghu Chong untuk ditanyai, namun tiba-tiba terdengar suara teriakan, “Ada surat untuk Yue Buqun!” Lao Denuo dan beberapa murid pria segera menghunus pedang dan berlari ke arah suara. Tak lama kemudian mereka sudah kembali ke kapal. Lao Denuo masuk ke dalam kabin untuk melapor, “Guru, kami menemukan selembar kain yang tertindih batu di atas tanah sana. Si pengirim sudah pergi ketika kami datang.”
Yue Buqun menerima kain tersebut dan memeriksanya dengan saksama. Sepertinya kain itu berasal dari sobekan jubah biksu yang ditulisi dengan jari menggunakan tinta darah. Tulisan tersebut berbunyi, “Kami akan mengembalikan putrimu yang bau di Lembah Lima Raja Kejam.”
Yue Buqun menunjukkan kain itu kepada sang istri dan berkata, “Tulisan ini dibuat oleh si biksu tadi.”
Ning Zhongze menganggapi dengan gugup, “Darah… darah siapa yang dipakai menulis itu?”
“Jangan khawatir, pasti darahnya sendiri. Aku tadi berhasil melukai dahinya,” jawab Yue Buqun menenangkan istrinya. Ia kemudian bertanya kepada si jurumudi, “Berapa jauh jarak dari sini ke Lembah Lima Raja Kejam?”
Jurumudi menjawab, “Kalau kita berlayar pagi-pagi sekali, setelah melewati Kota Dongwa dan Jiuhe, maka kita akan sampai di Kota Dongming. Lembah Lima Raja Kejam berada di sebelah timur Dongming, dekat Heze. Lembah itu terletak di perbatasan Provinsi Henan dan Shandong. Jika Tuan ingin pergi ke sana, mungkin kita bisa sampai setelah senja besok.”
Yue Buqun menanggapi dengan berdehem, sambil benaknya berpikir, “Mereka menantang aku untuk bertemu di Lembah Lima Raja Kejam. Mau tidak mau aku harus datang ke sana. Tapi entah berapa jumlah musuh yang menunggu di sana? Selain itu, mereka juga menangkap Shan’er sebagai tawanan. Sepertinya dalam pertandingan ini kekalahanku sudah ditentukan. Tipis harapan untuk menang.”
Sementara hatinya ragu-ragu, tiba-tiba kembali terdengar suara teriakan orang dari arah daratan, “Keparat! Di mana Enam Setan Lembah Persik berada? Aku kakek kalian, Zhong Kui, dewa penangkap setan, datang hendak menangkap kalian!”
Mendengar itu, tentu saja Enam Dewa Lembah Persik gusar bukan kepalang. Mereka pun memaki-maki dengan segala macam kata-kata kotor. Kecuali Dewa Buah Persik yang masih terbaring lemah, kelima orang kakaknya pun bersama-sama melompat ke tepi sungai. Mereka melihat seorang laki-laki yang memakai kopiah panjang dan runcing berdiri di daratan dengan memegang seperangkat panji berwarna putih, seperti yang biasa dibawa pengurus jenazah.
Begitu melihat kelima Dewa Lembah Persik turun dari kapal, ia langsung berbalik sambil berteriak, “Kalian Enam Setan Lembah Persik adalah pengecut seperti tikus! Jika berani, ayo kejar aku!” Usai berkata demikian orang berkopiah panjang itu pun melesat pergi.
Dewa Akar Persik dan keempat adiknya semakin murka. Mereka pun bergegas mengejar si kopiah panjang. Namun tak disangka, orang itu memiliki ilmu ringan tubuh tingkat tinggi. Dalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
Yue Buqun, Ning Zhongze, dan beberapa murid Huashan juga turun dari kapal. Tiba-tiba Yue Buqun menyadari sesuatu dan segera berteriak, “Ini adalah siasat ‘memancing harimau turun gunung’. Semuanya segera kembali ke kapal!”
Pada saat itu sesosok bayangan bulat menggelinding entah dari mana dan langsung menangkap kerah baju Linghu Chong. Ia tidak lain adalah manusia cebol bulat yang tadi sore muncul.
“Ikut pergi denganku!” katanya sambil menarik tubuh Linghu Chong.
Linghu Chong tidak memiliki kekuatan untuk meronta. Namun tiba-tiba dari ujung jalan muncul sesosok bayangan yang menerjang keluar dan langsung menendang si cebol bulat. Ternyata si penyerang ini adalah Dewa Ranting Persik. Rupanya ia telah memisahkan diri dari saudara-saudaranya yang berlari mengejar si kopiah panjang dan memilih kembali ke kapal. Saat pengejaran tadi, diam-diam ia teringat kalau Dewa Buah Persik masih di atas kapal dan bisa jadi kakek Zhong Kui keparat berkopiah panjang tadi berlari memutar dan menangkap si adik bungsu tersebut. Begitu kembali, ia melihat si cebol bulat menyeret tubuh Linghu Chong, sehingga ia pun langsung melancarkan serangan untuk menolong.
Si bulat segera melepaskan Linghu Chong kemudian dengan sekali lompat ia masuk ke dalam kabin kapal mendekati Dewa Buah Persik yang masih terbaring lemah. Ia lantas mengangkat sebelah kakinya hendak menginjak dada Dewa Buah Persik.
Kontan saja Dewa Ranting Persik terkejut dan berteriak, “Jangan lukai adikku!”
“Aku ingin membunuhnya, peduli apa denganmu?” seru si bulat.
Secepat kilat Dewa Ranting Persik menyusul masuk ke dalam kabin. Ia lantas mengangkat tubuh Dewa Buah Persik sekaligus bersama alas tidurnya.
Siasat si bulat berjalan lancar. Ia lantas berbalik dan melompat ke daratan. Dalam sekali cengkeram ia sudah menangkap Linghu Chong kembali. Tubuh pemuda itu kemudian dipanggulnya dan segera dibawanya pergi.
Dewa Ranting Persik teringat pada amanat Ping Yizhi supaya ia dan saudara-saudaranya selalu menjaga Linghu Chong baik-baik. Kini Linghu Chong telah diculik orang. Bagaimana jika hal ini sampai terdengar oleh Tabib Ping? Bukan tidak mungkin kalau Tabib Ping akan memerintahkan supaya Dewa Buah Persik dibunuh sebagai hukuman. Mau tidak mau, Dewa Ranting Persik harus mengejar si bulat dan merebut Linghu Chong. Akan tetapi, ia juga tidak tega meninggalkan Dewa Buah Persik sendirian. Bagaimana jika ada musuh lain yang datang menyerang? Mana mungkin Dewa Buah Persik bisa mempertahankan diri? Tanpa pikir panjang lagi, Dewa Ranting Persik pun memanggul tubuh adik bungsunya itu dan membawanya serta mengejar si bulat.
Melihat itu Yue Buqun segera memberi isyarat kepada sang istri, lalu berkata, “Kau jaga para murid, biar aku yang menyusul ke sana untuk melihat apa yang terjadi.”
Ning Zhongze mengangguk paham. Mereka merasa saat ini banyak musuh tak dikenal yang bisa datang setiap saat. Jika ia ikut sang suami mengejar, bisa-bisa keselamatan para murid dalam bahaya.
Ilmu ringan tubuh si bulat sebenarnya masih di bawah Dewa Ranting Persik. Lebih-lebih dengan memanggul tubuh Linghu Chong di atas bahu membuatnya harus menguras banyak tenaga untuk berlari kencang. Namun Dewa Ranting Persik sendiri juga sedang menggendong Dewa Buah Persik yang belum sembuh dari luka. Dalam hal ini ia sama sekali tidak berani mengambil risiko karena khawatir luka adik bungsunya kembali kambuh apabila terbentur sesuatu. Itu sebabnya Dewa Ranting Persik tidak berlari, melainkan hanya berjalan dengan langkah lebar, sehingga tidak mampu mendekati si bulat yang berlari di depannya.
Yue Buqun juga mengerahkan ilmu ringan tubuh untuk mengejar mereka. Sedikit demi sedikit ia dapat menyusul dan mendengar suara Dewa Ranting Persik berteriak-teriak, “Lepaskan Linghu Chong! Jika tidak, maka aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia dan menghabisimu!”
Meskipun tubuh Dewa Buah Persik lemah tak berdaya, tapi mulutnya tetap saja cerewet. Ia pun menanggapi teriakan Dewa Ranting Persik yang menggendongnya, “Kakak Ketiga, bagaimana kau bisa menghabisinya? Kakak Pertama dan yang lain tidak ada di sini. Biarpun kau dapat menyusul si cebol bulat itu juga tak bisa mengapa-apakan dia. Kau bilang akan mengejarnya sampai ke ujung dunia juga hanya omong kosong belaka, bukan?”
“Walaupun cuma omong kosong, paling tidak bisa membuat dia takut, bukan? Lebih baik omong kosong daripada tidak berbuat apa-apa,” kata Dewa Ranting Persik.
“Kau lihat sendiri, si cebol bulat itu tetap berlari cepat, sama sekali tidak menjadi lambat. Itu berarti, omong kosongmu tidak ada gunanya,” desak Dewa Buah Persik.
“Yah… dia memang tidak memperlambat larinya. Tapi, percayalah padaku. Sebentar lagi dia pasti lebih lambat,” balas Dewa Ranting Persik.
“Tetap saja kata-katamu salah. Seharusnya tadi kau bilang ‘membuat lambat’, bukan ‘membuat takut’,” kata Dewa Buah Persik.
“Pokoknya kata ‘membuat’ tetap benar!” tukas Dewa Ranting Persik. Meskipun mulutnya berdebat dan tangannya memanggul orang, namun kecepatan langkah kakinya sama sekali tidak berkurang.
Begitulah, tiga orang itu berkejar-kejaran dengan cepat menuju ke arah timur laut. Jalanan makin lama makin terjal, rupanya mereka sedang mendaki jalan pegunungan.
Tiba-tiba Yue Buqun menyadari sesuatu. “Jangan-jangan si cebol itu mempersiapkan bala bantuan di lembah pegunungan ini untuk memancing kedatanganku? Jika demikian sungguh sangat berbahaya jika aku sampai masuk ke dalam perangkapnya.”
Karena bimbang, Yue Buqun memperlambat langkah kakinya. Dilihatnya si cebol bulat memanggul tubuh Linghu Chong menuju ke sebuah rumah beratap genting di lereng gunung. Sesudah dekat ia lantas melompat masuk ke halaman rumah itu dengan melintasi pagar tembok.
Dewa Ranting Persik yang menggendong Dewa Buah Persik juga ikut melompati pagar tembok itu. Tapi mendadak terdengar suara ia menjerit. Ternyata ia dan adik bungsunya telah masuk ke dalam perangkap yang terpasang di balik pagar tembok tersebut.
Yue Buqun juga sudah mengejar sampai di tepi pagar tembok itu. Tapi ia lantas berhenti dan memasang telinga. Terdengar Dewa Buah Persik menggerutu, “Sudah kukatakan kepadamu agar berhati-hati. Coba lihat, sekarang kau terperangkap di dalam jaring ini mirip seekor ikan, sungguh sial!”
Dewa Ranting Persik menjawab, “Pertama, bukan seekor tapi dua ekor ikan. Kedua, kapan kau pernah menyuruh aku berhati-hati?”
“Eh, dulu waktu masih kecil, ketika kita pergi mencuri buah mangga di halaman rumah orang, bukankah pernah kusuruh kau berhati-hati? Apa kau sudah lupa?” balas Dewa Buah Persik.
“Itu kejadian tiga puluh tahun yang lalu, mana ada sangkut pautnya dengan yang sekarang ini?” sahut Dewa Ranting Persik.
“Sudah tentu ada sangkut pautnya,” kata Dewa Buah Persik. “Karena dulu kau kurang hati-hati sehingga jatuh dari pohon dan ditangkap orang, lalu dihajar. Untung Kakak Pertama, Kakak Kedua, dan yang lain datang menolong kita dan membunuh habis orang-orang itu sekeluarga. Sekarang kau kurang hati-hati lagi sehingga kembali tertangkap pula.”
“Apa susahnya? Kita tunggu saja Kakak Pertama dan yang lain datang dan membunuh habis orang ini sekeluarga,” kata Dewa Ranting Persik.
Terdengar si bulat mendengus dan berkata, “Hm, kematian kalian dua Setan Lembah Persik sudah di depan mata, tapi masih berani mengoceh akan membunuh orang segala. Lebih baik tutup mulut kalian supaya telingaku tidak panas.”
Lalu terdengar dua kali suara tamparan yang disusul kemudian Dewa Ranting Persik dan Dewa Buah Persik terdiam seketika.
Yue Buqun masih memasang telinga, namun tidak terdengar suara apa-apa lagi. Ia lantas memutar ke belakang rumah. Tampak di luar pekarangan tumbuh sebuah pohon besar. Ia pun memanjat pohon besar itu dan memandang ke dalam. Tampak sebuah pondok kecil berdiri pada jarak belasan meter dari tembok luar.
Melihat nasib Dewa Ranting Persik dan Dewa Buah Persik, Yue Buqun tidak berani masuk ke dalam pondok itu karena yakin terdapat banyak perangkap di sana. Maka ia hanya bersembunyi di atas pohon tersebut sambil mengerahkan ilmu Kabut Lembayung Senja untuk mendengarkan pembicaraan di dalam pondok. Terdengarlah suara si bulat mendudukkan tubuh Linghu Chong di atas kursi, kemudian bertanya, “Sesungguhnya si tua bangka Zu Qianqiu itu ada hubungan apa denganmu?”
Linghu Chong menjawab, “Baru pertama kali ini aku bertemu orang bernama Zu Qianqiu itu.”
“Kau masih berani berdusta, hah?” bentak si bulat gusar, “Apa kau sudah lupa kalau sekarang sudah jatuh ke tanganku? Tunggu saja, sebentar lagi kau pasti akan kubuat menderita sampai mati.”
“Aku tahu kau sangat marah karena pilmu yang katanya mujarab itu telah kumakan tanpa sengaja,” kata Linghu Chong dengan tertawa. “Tapi jujur saja, aku merasa ragu jangan-jangan pilmu itu tidak sehebat dugaanmu. Sudah sekian lama kutelan obatmu namun sedikit pun aku tidak merasakan adanya perubahan.”
“Memangnya kau kira bisa begitu cepat reaksinya?” kata si bulat makin gusar. “Datangnya penyakit biasanya mendadak seperti gunung runtuh, tapi sembuhnya sedikit demi sedikit seperti kepompong ulat sutra. Khasiat obatku itu baru dapat terlihat sesudah sepuluh atau lima belas hari lagi.”
“Kalau begitu, mengapa kau tidak menunggu sampai lima belas hari saja, supaya ketahuan bagaimana khasiatnya?” ejek Linghu Chong.
“Kentut busuk!” bentak si bulat. “Kau sudah memakan Pil Penyambung Nyawa secara licik. Akan kubunuh kau sekarang juga!”
“Kalau kau bunuh aku, justru membuktikan kalau Pil Penyambung Nyawa ternyata tidak bisa memperpanjang nyawaku,” kata Linghu Chong.
“Huh, kau mati di tanganku, tidak ada hubungannya dengan khasiat Pil Penyambung Nyawa,” balas si bulat.
“Baiklah, kalau kau mau membunuhku boleh saja. Aku sudah tidak bertenaga dan tidak mampu melawan,” kata Linghu Chong dengan tertawa.
“Huh, jangan harap kau bisa mati dengan enak! Aku harus menanyaimu lebih dulu,” bentak si bulat. “Bedebah! Zu Qianqiu adalah sahabatku selama puluhan tahun. Sekarang dia tega mengkhianati kawan sendiri, tentu ada sebab-musababnya. Perguruan Huashan kalian tidak ada artinya sama sekali di mata kami, Leluhur Tua Sungai Kuning. Dia mencuri Pil Penyambung Nyawa milikku untuk diberikan kepadamu tentu bukan karena kau ini murid Huashan. Pasti ada alasan lainnya. Aih, sungguh aneh, sungguh aneh!” Sambil bicara sendiri, ia membanting kakinya di lantai dengan sangat marah.
“Oh, aku tahu. Ternyata julukanmu adalah Leluhur Tua Sungai Kuning. Maafkan aku kalau tidak mengenalimu,” kata Linghu Chong.
“Dasar bodoh!” bentak si bulat semakin kesal. “Aku seorang diri, mana bisa disebut Leluhur Tua Sungai Kuning?”
“Mengapa tidak bisa?” tanya Linghu Chong heran.
“Leluhur Tua Sungai Kuning terdiri dari dua orang, yang satu bermarga Lao, yang satu lagi bermarga Zu. Mengapa begini saja tidak paham? Sungguh goblok!” gerutu si bulat. “Namaku Lao Ye, atau Lao Touzi, sedangkan dia bernama Zu Zong atau Zu Qianqiu. Kami berdua bersemayam di sepanjang lembah Sungai Kuning, sehingga kami disebut sebagai Leluhur Tua Sungai Kuning.”
“Aneh, mengapa yang seorang bermarga Lao, artinya tua, dan yang lain bermarga Zu, artinya leluhur?” tanya Linghu Chong.
“Kau ini masih hijau seperti katak dalam tempurung, sehingga tidak tahu kalau di dunia ini ada orang bermarga Lao dan Zu,” kata si bulat. “Namaku Lao Ye, atau Lao Touzi. Kalau aku tidak dipanggil Lao Ye, berarti aku dipanggil Lao Touzi.”
Linghu Chong tertawa menanggapi, “Kalau begitu Zu Qianqiu bermarga Zu dan bernama Zong?”
“Benar!” jawab si bulat Lao Touzi. Setelah diam sejenak ia melanjutkan, “Hei, kau tidak tahu nama Zu Qianqiu, jika begitu mungkin kau memang tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Tapi, aih, jangan-jangan kau ini anaknya Zu Qianqiu?”
Linghu Chong bertambah geli dan menyahut, “Bagaimana mungkin aku ini anaknya? Dia bermarga Zu, sedang aku bermarga Linghu. Mana bisa keduanya dihubung-hubungkan?”
“Sungguh aneh,” gumam Lao Touzi. “Dengan susah payah, dengan segala tipu daya akhirnya aku bisa meracik delapan biji Pil Penyambung Nyawa yang sedianya hendak kugunakan untuk mengobati penyakit putriku tercinta. Kau sendiri bukan anak Zu Qianqiu, tapi mengapa dia mencuri obat itu untukmu?”
![]() |
Lin Pingzhi dan Yue Lingshan bertemu di malam gelap. |
![]() |
Yue Buqun mengejar penculik anaknya. |
![]() |
Yue Buqun menghadapi biksu misterius. |
(Bersambung)